| Sumber: cinemags.id |
Seringnya, sebuah sekuel
dari film-film yang sukses secara kritik menemui kendala besar dalam
usahanya melampaui atau bahkan menyamai pencapaian yang telah didapatkan
dari film pertamanya. Terhitung hanya beberapa di antaranya yang
berhasil lepas dari belenggu tersebut, terlebih lagi mengarah kepada
ranah horor, karena tentu bukan menjadi pekerjaan yang mudah untuk bisa
menciptakan trik jump scare yang tak hanya mengulangi formula yang sudah dipakai pada predecessor-nya
demi memenuhi kebutuhan penonton. Dengan sedikitnya peluang untuk
memperoleh sajian horor yang memiliki taraf jempolan, lantas ada sedikit
keraguan terhadap The Conjuring 2—sungguhpun James Wan kembali
memegang tampuk penyutradaraannya—apalagi bagi yang sudah terlanjur
jatuh cinta dengan film pertamanya. Apa mau dikata, babak pertamanya
yang sudah diakui sebagai salah satu film memedi terbaik dan terseram
dalam beberapa dekade terakhir ini membuat besar kecil kemungkinan bagi
sekuelnya untuk kembali menyandang predikat tersebut.
Alhasil, tak disangka petualangan supranatural pasangan Warren ini
masih sukses memberi teror yang sama menyeramkan dengan pendahulunya.
Kemampuan Wan mengolah konsep klasiknya menjadi sajian penuh sensasi
ketakutan dengan pengambilan sudut-sudut yang dinamis adalah mengapa
horror-horor miliknya selalu berhasil menghadirkan jeritan nyaring di
gedung bioskop. Ia tahu benar bagaimana membangun atmosfer creepy lewat
setiap sudut rumah keluarga Hodgson, menghadirkan nuansa keseraman dari
setiap ruangan yang gelap, membiarkan imajinasi penontonnya bergerak
liar melihat sesuatu yang tak tampak dengan iringan-iringan scoring penyayat
nyali dari Joseph Bishara, dan sinematografi dari Don Burgess yang
sukses memainkan visualnya dengan sangat brilian, hingga hentakan jump scare di saat yang selalu tepat membuat teriakan keras tak terelakkan lagi.
Sejak awal bergulirnya cerita, audiens sudah mulai diperlihatkan
sedikit demi sedikit teror tak kasat mata, mulai dari mobil-mobilan
pemadam kebakaran yang berjalan sendiri, meja yang terdorong keras di
depan mata, dan tempat tidur yang bergoyang, sampai pada pertengahan
durasi filmnya, momok seram tersebut sedemikian sering diperlihatkan
wujudnya, bahkan—tidak seperti pada horor kebanyakan yang hanya
mengandalkan situasi sepi untuk memunculkan sosok hantunya—dalam keadaan
ramai pun sang momok berani menunjukkan keganasannya. Pada momen
tersebutlah, seketika ada muncul perasaan “mulai terbiasa” ketika
intensitas keseraman yang dihadirkan bertubi-tubi, alih-alih membuat
para audiens tak tenang, melainkan malah membuat berani membelalakkan
mata karena rasa penasaran yang tinggi. Pun begitu, di balik ketenangan
tersebut, selalu ada adegan penggedor jantung yang tak terprediksi
kemunculannya, dan sukses membuat audiens jera untuk memfokuskan
pandangannya ke layar.
Sumber kekuatan The Conjuring 2 pun tidak hanya datang dari
sentuhan dingin sang sineas dalam memberikan rasa takut, namun juga
bagaimana film ini mencoba tampil lebih kompleks dengan selipan drama
yang lebih sentimental. Di beberapa momen, alunan ceritanya sempat
berjalan menjadi lambat saat audiens diajak mengenal lebih jauh pasangan
Warren, namun tidak lantas terjerembab menjadi tuturan yang
membosankan, sampai akhirnya kembali pada titik mendebarkan dengan pace yang
berjalan cukup cepat. Di sinilah nilai lebih yang pantas disematkan
untuk Wan, di mana ia mencoba mempertebal sisi kemanusiaan dan nuansa
dramatik untuk memberikan ikatan yang kuat antara audiens dengan jajaran
karakter di dalam filmnya, di mana audiens dibuat seolah-olah mengenal
baik pasangan Warren sehingga muncul rasa simpati yang mendalam untuk
mereka.
Terlebih lagi, intensitas hubungan antara Ed dan Lorraine yang
kali ini semakin digali lebih mendalam, tentang seberapa besar
perjuangan mereka untuk saling melindungi satu sama lain, serta tidak
melulu berfokus pada keluarga Hodgson dan rumah berhantunya, namun juga
melibatkan kehidupan pribadi pasangan Warren yang nantinya berimplikasi
pada keseluruhan cerita. Tepuk tangan juga patut diberikan untuk para
pelakon utama di filmnya yang mampu memberi kontribusi akting menawan
dalam menghidupkan karakter masing-masing, khususnya bagi Patrick Wilson
dan Vera Farmiga yang dalam kali keduanya ini ibarat makin melebur
sebagai karakter pasangan Warren dan membentuk chemistry yang lebih kuat lagi dari sebelumnya.
Sumber: cinemags.id
Sumber: cinemags.id
0 comments:
Post a Comment