Minggu pagi sebelum sebelum matahari terlalu menyengat
kulit. Perjalanan mengitari pulau Lombok dimulai. Tujuan ganda yang harus didapatkan diataranya menikmati keindahan
alam pulau mungil dan imut dengan sejuta pesona keindahnnya. Tidak berhentinya
wisatwan baik lokal maupun mancan negara untuk datang ke pulau ini.
Ratusan titik indah nan cantik di tawarkan di pulau
ini mulai dari keindahan alamnya baik di daratan maupun lautnya. Siapa yang
tidak kenal dengan Lombok. Baru baru ini pemerintah meningkatkan lagi target
kunjungan berwisata ke Lombok tapi dengan label yang berbeda yaitu label halal.
Setelah Lombok menguatkan pondasi diri
menjadi daerah wisata halal setelah mendapat kan penghargaan dunia yaitu
destinasi World Best Halal Tourism dan World Best Halal Honeymoon dan The World
Halal Travel Summit/Exhbition. Kompetisi ini diadakan di Uni Emirat Arab (UEA)
pada tahun 2015 yang lalu.
Wisata halal ini tidak terlepas dari fasilitas yang
dibutuhkan oleh wisatawan yang di dominasi umat muslim dari seluruh dunia.
Fasilitas tersebut mencakup kuliner yang yang aman dan tentunya halal. Selain
itu tempat ibadah menajadi prioritas. Ya tidak mengherankan jika Lombok
terpilih. Hisan ribuan masjid diseluruh
penjuru memnatapkan Lombok sebagai Pulau Seribu masjid.
Kemegahan masjid-masjid yang ada di pulau ini tidak
terlepas dari kesadaran akan umat islam yang ada di Lombok yang didiami oleh
suku Sasak. Makanya kita tidak heran jarak antar masjid kemasjid begitu dekat.
Mayoritas masyarakat muslim yang menuntut berdirinya tempat ibadah-ibadah yang
ada di pulau ini. Selain itu keramahan masyarakat Sasak menjadi tolak ukur para
wisatawan dari Timur Tengah.
Terlepas dari prestasi Lombok dalam meraih wisata
Halal. Saya melanjutkan cerita perjalan yang di mulai dari ujung timur Lombok
yaitu Kabupaten Lombok Timur tepatnya di Kec. Pringgabaya. Perjalanan yang saya
raca tanpa rencana ini didasari keingin tahuan apakah betul seperti yang
diceritakan atau sering dikeluarkan selogan bahwa Lombok merupakan daerah
Seribu masjid. Apa salahnya KeKEPOAN (sedikit gaul) mengerakkan langkah saya
untuk memulai perjalanan. Perjalanan dimulai. Mata ini tidak henti-hentinya
menyoroti kiri-kanan jalan.
Lombok timur merupakan daerah yang paling padat
penduduk di anatara kabupaten/Kota yang ada di NTB. Setiap sudut desa berdiri
kokoh masjid megah nan indah. di kabupaten ini bangunan masjidnya begitu modern
beda dengan wilayah lain di Lombok. Setiap masjid memiliki menara yang
menjulang tinggi. Salah satu contohnya yaitu masjid Mujahidin di Wilayah
Selong. Masjid ini selalu ramai dan dijadikan pusat kajian. Halaman yang luas
menambah keindahan masjid. tidak itu saja di Masjid ini kaum laki dan Perempuan
di pisah sehingga tidak bisa saling menatap dan tidak menimbulkan rasa risih.
Apa Bedanya Dengan Masjid Yang Lain???
Kita lanjutkan perjalanan menuju Utaranya Lombok. di
daerah ini banyak sejarah yang tersimpan akan penyebaran Islam Menurut beberapa
catatan, penyebaran agama Islam melalui Bayan dilakukan Sunan Prapen, keturunan
dari salah seorang Wali Songo yakni Sunan Giri. Namun, tak diketahui persis
mengapa Bayan menjadi tujuan pertama Sunan Prapen.
Banyak yang menebak Sunan Prapen melakukan pelayaran dalam upaya penyebaran Islam ke wilayah timur nusantara dari Gresik lewat pantai utara Jawa. Dia tidak berlabuh ke Pulau Bali, tapi langsung ke Bayan.
Banyak yang menebak Sunan Prapen melakukan pelayaran dalam upaya penyebaran Islam ke wilayah timur nusantara dari Gresik lewat pantai utara Jawa. Dia tidak berlabuh ke Pulau Bali, tapi langsung ke Bayan.
Dari geografisnya, Bayan berada di tepi pantai utara Lombok sehingga sangat mungkin Sunan Prapen melempar sauh di sini. Belakangan, Sunan Prapen diperkirakan ke Pulau Bali setelah dari Sumbawa dan Bima.
Anggun Zamzani (2009) dalam penelitiannya mengenai
“Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Lombok Abad XVI-XVIII” menemukan
agama Islam masuk ke Pulau Lombok pada abad XVI melalui misi yang dipimpin
Sunan Prapen, putra Sunan Giri.
Mengenai bukti berkembangnya Islam di Lombok dapat dilihat dari adanya peninggalan masjid kuno yang ada di Bayan, Lombok Utara, yang disebut dengan Masjid Bayan Beleq.
Mengenai bukti berkembangnya Islam di Lombok dapat dilihat dari adanya peninggalan masjid kuno yang ada di Bayan, Lombok Utara, yang disebut dengan Masjid Bayan Beleq.
![]() |
| Masjid Kuno Bayan |
Ada hal yang unik antara masjid di pulau Lombok yaitu
mengenai kubah masjid yang ada di Lombok utara Umumnya memiliki Kubah tumpang
dibandingkan masjid yang lain. Kita kembalikan ingatan kita mengenai sejarah
atap yang menghiasi masjid.
Masjid pada awalnya tidak memiliki kubah, masjid
Nabawi-pun hanyalah bangunan segiempat beratapkan daun kurma sehingga terlihat
sangat sederhana, ternyata kubah memang bukan berasal dan berakar dari
arsitektur Islam, hal ini diperkuat oleh pernyataan arsitek terkemuka, Prof K.
Cresswell dalam Early Muslim Architecture yang menyebutkan bahwa pada desain
awal masjid di Madinah sama sekali belum mengenal kubah.
Apabila menelisik
lebih jauh sejarah kubah, ternyata kubah sudah dikenal manusia sejak 6000 tahun
yang lalu oleh bangsa Mesopotamia, namun penggunaan kubah baru berkembang pesat
di periode awal masa Kristen.
Melihat kemegahan gedung-gedung Kristen dan romawi
yang menggunakan kubah, maka tergugahlah para khalifah untuk membangun masjid
dengan kubah yang megah. Saat khalifah Abdul Malik (685-688) berkuasa,
dibangunlah masjid dengan bentuk kubah yang
lebih dikenal sebagai masjid Umar di Yerusalem.
Di Indonesia misalnya, justru banyak ditemukan
masjid dengan arsitektur khas Jawa, yaitu atap mengerucut ke satu titik puncak,
tumpang dua, sampai lima tumpuk. Atap masjid berbentuk kubah baru masuk ke
Indonesia akhir abad ke-19. Begitu juga di Lombok.
Bersambung Kita buka puasa dulu!!!!


0 comments:
Post a Comment