Showing posts with label Tour Kampoeng. Show all posts
Showing posts with label Tour Kampoeng. Show all posts

Tuesday, 5 July 2016

Published 19:30 by with 0 comment

Takbiran Keliling Kampoeng



Takbiran Keliling kampoeng bermodalkan gerokbak sampah dan Sound System

Setelah sholat isya teriakan minyak mana minyak terdengar. Kerumunan anak-anak kecil mulai memenuhi halaman rumah salah satu warga di kampoeng saya. Malam ini merupakan malam kemenangan umat muslim karena besok hari raya Idul Fitri 1437 H. Pantes saja suasana ribut terdengar. 

Satu persatu obor dari bambu diisikan minyak tanah. Setelah obor terisi minyak barisan mulai tersusun rapi obor pun mulai dinyalakan. Suara sound system mengelegar bagaikan suara konser. Terdengar jelas teriakan takbir mulai bergema menambah semaraknya malam perayaan hari raya. 

Kegiatan malam ini adalah kegiatan takbiran keliling kampoeng. Secara serentak adik-adik mengumandangkan takbiran menambah suasana malam takbiran semakin terdengar hingga ke penjuru kampoeng. 
Suasana malam takbiran bersama adik-adik yang ada di Kmpoeng Batumas saat mengelilingi Desa Batuyang


Dengan fasilitas seadanya malam ini terasa luar biasa. Ini merupakan kali pertamnya diadakannya takbiran keliling dengan nuansa yang berbeda. Bedanya itu full takbiran tanpa ada suara petasan dan adik-adik secara serentak takbir. Dan ini yang pertama takbiran mengelilingi ruang kosong sudut kampung. Gang demi gang kami masuki. Lantunan suara takbiran membuat warga kampung berdiri menyambut barisan kami seraya tersenyum dan ikut melantunkan gema takbir.

Adik-adik pembawa obor

Suatu hal yang baru ini tidak terlepas dari kerja sama teman-teman yang mengatas namakan dirinya pemuda INSANI (Indonesia Masa Kini). Kerja sama yang kompak ini semoga selalu ada pada diri kita. Kami tidak banyak tidak sampai sepuluh orang. Tapi karena kami punya pandagan dan tujuan yang sama yang membuat ini terlaksana.

Ini sedikit cerita dimalam takbiran semoga kedepannya tambah meriah/ akhirya kami dari PEMUDA INSANI mengucapkan selamat hari raya idul fitri mohon maaf lahir dan batin.
Read More
      edit

Thursday, 16 June 2016

Published 20:49 by with 0 comment

Desa Tete Batu


Tetebatu adalah sebuah desa di wilayah Kecamatan Sikur, Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat, Indonesia.

Salah satu pesona keindahan pemandangan di kaki Gunung Rinjani terdapat di Desa Tete Batu yang memiliki panorama pegunungan dan persawahan yang amat indah. Karena keindahannya, Tete Batu dijadikan sebagai desa wisata oleh Pemerintah Lombok Timur. Tete Batu memiliki formasi kontur tanah seperti ngarai memanjang. Pemandangan ngarai yang indah terbentuk dengan persawahan subur nan hijau. Inilah daya tarik Tete Batu yang membuat banyak wisatawan berbondongbondong berkunjung ke sana. Lokasi Desa Wisata Tete Batu berada di selatan Gunung Rinjani di ketinggian 700 meter di atas permukaan laut.

Berada di ketinggian tersebut membuat udaranya sejuk, bebas polusi, dan menyegarkan. Di samping dominasi hamparan pemandangan persawahan, panorama alam Tete Batu di Kecamatan Sikur Lombok Timur ini didominasi oleh perbukitan terjal, hutan, dan air terjun. “Kontur sawahsawah bertingkat adalah daya tarik utama wisata di Tete Batu.

Namun, wisatawan yang sudah telanjur datang tak perlu kecewa karena keramahan dan keha ngatan masyarakat desa di sana membuat wisatawan betah bercengkerama dengan mereka. Berdialog dan menyelami kehidupan mereka adalah pengalaman berharga lain. Selain persawahan, masih ada pemandangan lain di desa ini, yaitu perkebunan tembakau.

Tembakau Lombok yang terkenal dan memiliki kualitas internasional salah satunya komoditi andalan yang dihasilkan di Tete Batu. Jika udara cerah, dari Tete Batu bisa terlihat pemandangan Gunung Rinjani menjulang gagah. Siluet jingga matahari senja dapat terlihat di mahkota Rinjani pada setiap sore. Oleh para wisatawan asing, pemandangan yang menakjubkan ini menjadi objek jepretan favorit bagi penyuka fotografi .
Lainnya Sambil trekking di Tete Batu dapat melakukan penjelajahan di beberapa tempat di lokasi ini seperti air terjun dan taman wisata yang amat menarik. Seperti saat menuju Taman Wisata Tetebut terdapat bermacam habitat kera hitam. Kera-kera ini pun bisa dijumpai lalu lalang dengan liar sepanjang perjalanan menuju air terjun Ulem-Ulem.

Air terjun Ulem-Ulem hanya memiliki ketinggian kurang dari 10 meter. Namun, pesona air terjun ini bukan pada ketinggiannya, melainkan pada kolam air di bawahnya yang luas dan dapat dijadikan tempat berenang. Air bening dan dingin membuat setiap orang ingin menceburkan diri.

Di sekeliling air terjun, terdapat gubuk-gubuk peristi rahatan. Tempat ini dapat dipakai beristirahat setelah basah kuyup berenang di bawah air terjun Tete Batu. Jika masih penasaran, telusuri pula sungai-sungai berbatu di Tete Batu. Arusnya yang deras dan liar cocok untuk kegiatan arung jeram. Desa Tete Batu juga terdapat perkebunan tanaman holtikultura andalan berupa komoditas buah pala.

Salah satu produk olahannya yang siap dikonsumsi atau dijadikan buah tangan adalah manisan buah pala. Manisan ini memiliki efek mengantuk. Jadi, setelah seharian menjelajahi Tete Batu, beristrahat akan lebih tenang setelah makan manisan buah pala yang berfungsi sebagai obat tidur alami ini.

Sejauh mata memandang, Anda hanya akan melihat keindahan nuansa pegunungan di Tetebatu. Dari tempat ini terbentang pemandangan ke arah selatan Lombok, Gunung Rinjani di utara dan pemandangan laut saat menoleh ke arah timur. Tetebatu adalah tempat peristirahatan yang sempurna untuk wisatawan yang penat dan bagi yang ingin sementara singgah untuk meneruskan liburan di daerah Lombok Tengah. Suhunya yang dingin, membuat Tetebatu senantiasa sejuk. Langitnya seringkali ditutupi awan, matahari tidak pernah memancar dengan kuat. Redup dan tenang. Dengan nuansa alam seperti ini, sawah di Tetebatu cocok untuk bertani tembakau dan padi.

Bagi yag suka berenang, acuhkan sementara dinginnya air di Tetebatu. Anda wajib menikmati berenang di sungai yang berkelok selepas trekking di kaki Rinjani untuk relaksasi. Suasana pedesaannya yang masih kental membuat Tetebatu tak pernah bisa dilupakan. Desa wisata ini berada di 700 meter dpl. Jika ingin menikmati keindahan Tetebatu dengan lengkap, Anda bisa menyewa sepeda kepada masyarakat setempat. Atau jika ingin lebih tradisional, Anda bisa naik cidomo menikmati keindahan suasana. Selain pemadangannya yang memukau, Tetebatu yang mayoritas dihuni oleh orang suku Sasak ini juga dikenal dengan atraksi budayanya yang menarik. Ritual-ritual tradisional masih sangat kental dilakukan di sini. Tidak itu saja, masyarakat Sasak di Tetebatu juga dikenal sebagai penghasil kerajinan tangan yang sangat laku di pasaran
Read More
      edit

Tuesday, 14 June 2016

Published 14:00 by with 0 comment

Budaya Hindu di Desa “Muslim” Karang Bayan.

Menelusuri Budaya Hindu di Desa Karang Bayan Karang Bayan merupakan sebuah desa yang berada di Lingsar, Kabupaten Lombok Barat. Desa ini merupakan salah satu desa yang sangat kaya akan hasil alam. Baik pertanian maupun perkebunannya. Kehidupan sosial yang masih sangat kental dengan gotong royongnya membuat suasana masyarakat yang penuh dengan kekeluargaan tergambarkan ketika di dalam satu keluarga sedang mempesiapkan acara sakral di desa tersebut.
Desa Karang Bayan tidak sepopuler desa wisata lainnya memang. Namun ia menawarkan keindahan alam dan kehidupan tradisional untuk dilihat.
Desa dibawah perbukitan ini terletak di Kecamatan Lingsar yang dapat dicapai dalam 10 menit dengan mobil dari Cakranegara. Daerah yang subur ini sumber dari mata air Kayangan dan Pancor Ancak. Mereka adalah sumber air bagi warga desa. Untuk mencapai kedua mata air, anda harus berjalan sekitar 30 menit dari pemukiman desa. Sepanjang jalan, Anda bisa merasakan suasana segar hutan tropis. Anda bisa mendengar berbagai burung bersenandung dan gemericik air sungai, Anda bisa melihat beberapa buah-buahan tropis menggantung pada batang dan terkagum2 dengan penduduk desa yg ramah berjalan sambil membawa kering kayu atau hasil panen di kepala dan bahu mereka.
Selain melakukan soft trekking di sekitar bukit, Anda juga dapat mengunjungi beberapa bangunan bersejarah di tempat ini.Secara historis, Karang Bayan merupakan salah satu daerah yang dijajah oleh Karang Asem Raya. Hal ini juga dikenal sebagai salah satu daerah percaya Islam Waktu Telu. Menurut sesepuh di desa ini, mereka percaya bahwa nenek moyang mereka berasal dari Bayan, salah satu kecamatan di bagian utara Lombok yang merupakan pusat kepercayaan Islam Waktu Telu. Asumsi ini diperkuat dengan dialek Sasak yang sama digunakan dalam Karang Bayan dan Bayan, dengan kemiripan nama desa ini dan kemiripan bentuk bangunan bersejarah yang masih berdiri di tengah-tengah desa.
Ada 4 bangunan tradisional tetap yaitu Bale Adat, Sekenem, Bangaran dan Masjid. Di masa lampau, Bale Adat digunakan sebagai tempat berkumpul di mana penduduk desa diskusi kegiatan sosial mereka. Sekarang tempat ini dihuni oleh generasi ke-5 dari kepala desa. Bale Adat hanya terdiri dari satu ruangan dan teras. Di depan rumah ini, ada Sekenem. Sekenem adalah ruang tamu. Dalam sekenem, ada berugaq mana tamu bisa beristirahat.
Di balik Bale Adat berdiri Bangaran. Bangaran adalah monumen yang melambangkan batu pertama diletakkan ketika pertama kali nenek moyang Karang Bayan dibangun desa ini. Bangaran berasal dari kata “Bangar”. Ini berarti untuk melakukan deforestasi. Hanya beberapa langkah ke selatan dari Bale Adat, masjid sepi masih berdiri dan dilingkari oleh pagar bambu tersebut. Arsitektur ini paling mirip dengan Masjid Beleq di Bayan, Lombok Utara. Di depan masjid, ada sisa bangunan. Itu adalah dapur yang digunakan sebagai tempat persiapan sebelum memasuki masjid.
Islam Waktu Telu sangat dipengaruhi oleh budaya Bali. Hal ini secara eksplisit digambarkan dalam beberapa tradisi yang dilakukan oleh orang-orang di Karang Bayan yaitu Kikiran. Kikiran adalah metatah di Bali-tradisi yang bertujuan untuk tubuh manusia murni dengan flatting gigi mereka. Selain itu, hubungan harmonis antara Bali dan Sasak Islam Waktu Telu dapat dilihat dalam tradisi yang disebut Pijian. Pijian adalah tanda terima kasih yang diberikan kepada Hindust dari Sasak Karang Bayan untuk menghadiri acara tertentu. Pijian terdiri dari sawah, bumbu dan kelapa. Umumnya, itu diberikan ketika Sasak Karang Bayan mengirim undangan mereka.
Karang bayan merupakan desa yang dimana merupakan salah satu desa yang memiliki akulturasi budaya hindu yang masih kuat di Lombok, karena pada jaman dulu raja Karang Asem bali pernah menguasai desa tersebut, dimana masyarakatnya merupakan menganut agama islam dan beberapa dari mereka masih menganut watu telu . Karang bayan sendiri merupakan desa yang kepercayaannya merupakan ajaran dari tokoh agama islam yang ada di Bayan, KLU.
Tak ayal dari segi bahasa dan arsitektur masjid kuno peninggalannya, hampir memiliki persamaan dengan Masjid Kuno Bayan di KLU. Terlepas dari itu,desa Karang Bayan sendiri memiliki adat yang tak terlepas dari budaya hindu pada umumnya. Diantara adat hindu tersebut adalah Pijian dan Kikiran.
1. Pijian
Pijian merupakan adat dari masyarakat di desa Karang Bayan memberikan hadiah dari keluarga (muslim)kepada keluarga (hindu) di Karang Bayan, ini merupakan salah satu cara untuk mengundang keluarga (hindu) untuk datang ke acara yang salah satu keluarga (muslim) akan adakan di desa tersebut. Biasanya Pijian ini di antar pada saat 2 hari sebelum acara tersebut dimulai. Acara seperti nyongkolan (prosesi pernikahan) merupakan moment yang dimana pijian ini di persembahkan. Sedangkan pijian ini sendiri berisi 2 buah kelapa, 2 buah telur, minyak dan rempah-rempah.
2. Kikiran
Kikiran merupakan salah satu prosesi adat meratakan gigi dengan mengunakan alat tertentu. Biasanya prosesi adat ini disebut ngosokan dalam adat karang bayan. Ngosokan ini sendiri biasanya merupakan acara yang di rangkai pada cara rowah atau gawe beleq di desa Karang bayan tersebut.
Jadi akulturasi budaya dan adat hindu masih sangat kental di Lombok dan ini membuktikan bahwa toleransi beragama sangat kuat sekali. Bahkan saling memberikan apresiasi sendiri terhadap acara adat yang di lakukan.

Sumber: www.gililombok.com
Read More
      edit

Monday, 13 June 2016

Published 13:00 by with 0 comment

Desa Nelayan Tanjung Luar

Tanjung Luar merupakan salah satu desa yang ada di kecamatan Keruak, kabupaten Lombok Timur, provinsi Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Desa merupakan satu dari 4 desa dan kelurahan yang berada di kecamatan Keruak.
Desa ini memiliki jumlah penduduknya sebagian besar bersuku daerah Sasak, Bugis dan Bajau . Terletak di bagian timur pulau Lombok.
 
Bagi yang menyukai fotografi, Anda tidak boleh melewatkan kesempatan berkunjung ke Pelabuhan Tanjung Luar. Berangkatlah jam 5 pagi ke lokasi dan Anda akan disuguhi suasana pasar ikan yang ramai sekali. Para nelayan menurunkan hasil tangkapan mereka. Kemudian ikan-ikan yang sudah ditangkap di bawa ke tempat pelelangan yang sudah ditunggu oleh para pembeli. Ikan yang dijual disini mulai dari ikan yang biasa kita lihat dipasaran hingga ikan berukuran besar (giant fish) seperti hiu.
Segala jenis isi laut, ikan hasil tangkapan bebas diperjual belikan. Mulai dari Udang, Kepiting, Kerang, Tiram, Cumi, Sotong, Tenggiri, Gurita, Baronang, Tongkol maupun Pari, Tersedia juga, ikan teri yang menjadi makanan kegemaran saya. Ikan – ikan itu, dijual dalam keadaan hidup maupun sudah diasinkan. Tak ketinggalan, jenis-jenis ikan mahal kualitas ekspor seperti Krapu, Traveli, Marlin, Cakalang bahkan Potongan Tuna. Ikan – ikan itu seolah dipamer dengan berbagai ukuran dan harga variatif. Ikan dengan ukuran besar biasanya dipotong kecil, namun banyak yang dijual dalam keadaan utuh tanpa goresan pisau.
Ikan hiu yang diperdagangkan di pelabuhan ini merupakan hasil tangkapan nelayan setempat yang khusus berburu hingga ke perairan lepas di Samudera Hindia atau perairan Laut Flores. Di pelabuhan ini setidaknya ada 67 unit kapal nelayan yang 40 diantara berburu hiu. Jenis ikan hiu yang biasanya ditangkap oleh para nelayan adalah Hiu Loreng, Hiu Kejen, Hiu Lonjor dan Hiu Tikus.Khusus untuk ikan yang berbadan besar, para nelayan umumnya sudah memiliki pemesan tetap. Sirip hiu diekspor ke Hongkong sedangkan insang Manta Ray dikapalkan ke sebuah pabrik kosmetik di Surabaya. Tanjung luar juga merupakan wilayah permukiman masyarakat Bugis yang tinggal di rumah-rumah bertiang.
Jika beruntung Anda dapat menyaksikan ritual warga Dusun Toroh Selatan Desa Tanjung Luar Kecamatan Keruak melakukan Nyalamak Dilau yakni melarung kepala kerbau (Ditiba Tikolok) ke lokasi batu karang di tengah laut. Nyalamak Dilau berarti selamatan laut atau bisa pula disebut sebagai Nyalama Palabuang. Selamatan ini sebagai bentuk rasa syukur sekaligus pengharapan agar hasil ikan tangkapan mereka meningkat. Prosesi yang digelar masyarakat keturunan Suku Bajo tersebut sudah dilakukan secara turun temurun sejak 400 tahun silam.
Persiapan yang harus dilakukan untuk menggelar ritual ini adalah menyiapkan kepala kerbau yang sudah dipotong 3 hari sebelumnya. Tanduk dan gigi kerbau itu dihias dengan benang emas seberat 0,5 grams dan diletakkan didalam tempat yang ditutup dengan kain putih. Prosesi ini bertujuan untuk memohon kepada Allah agar dijauhkan dari marabahaya serta penyakit. Saat ritual Nyalamak Dilau akan dimulai, di pantai ratusan perahu penduduk sudah mengunggu untuk mengiringi dua sampan yang disatukan sebagai tumpangan iring-iringan kepala kerbau tersebut. Gendang, gong, dan seruling sebagai perlengkapan musikpun dimainkan. Biasanya irama magis tersebut selalu membuat beberapa orang warga mengalami kesurupan atau kandongkoang. Sesampaianya di lokasi batu karang, kepala kerbau itu dilepas oleh Sandro Daeng Abas (pawang/dukun). Pembuangan ke batu karang mengantung arti pentingnya habitat ikan sehingga tidak boleh dirusak. Sorak sorai warga menyertai iring-iringan perahu tersebut.
Tiga hari setelah melarung kepala kerbau dan atas seizin Sandro, para nelayan setempat baru boleh melaut kembali. Jika ada yang melanggar aturan ini akan diberikan sanksi denda dan penyiataan seluruh hasil tangkapan laut. Tradisi ini biasanya dilakukan pada bulan Muharram. Biaya yang digunakan untuk menggelar prosesi ini tidaklah sedikit yakni sekitar Rp. 35 juta.

sumber: gililombok.com
Read More
      edit