Menelusuri Budaya Hindu di Desa Karang
Bayan Karang Bayan merupakan sebuah desa yang berada di Lingsar,
Kabupaten Lombok Barat. Desa ini merupakan salah satu desa yang sangat
kaya akan hasil alam. Baik pertanian maupun perkebunannya. Kehidupan
sosial yang masih sangat kental dengan gotong royongnya membuat suasana
masyarakat yang penuh dengan kekeluargaan tergambarkan ketika di dalam
satu keluarga sedang mempesiapkan acara sakral di desa tersebut.
Desa Karang Bayan tidak sepopuler desa
wisata lainnya memang. Namun ia menawarkan keindahan alam dan kehidupan
tradisional untuk dilihat.
Desa dibawah perbukitan ini terletak
di Kecamatan Lingsar yang dapat dicapai dalam 10 menit dengan mobil dari
Cakranegara. Daerah yang subur ini sumber dari mata air Kayangan dan
Pancor Ancak. Mereka adalah sumber air bagi warga desa. Untuk mencapai
kedua mata air, anda harus berjalan sekitar 30 menit dari pemukiman
desa. Sepanjang jalan, Anda bisa merasakan suasana segar hutan tropis.
Anda bisa mendengar berbagai burung bersenandung dan gemericik air
sungai, Anda bisa melihat beberapa buah-buahan tropis menggantung pada
batang dan terkagum2 dengan penduduk desa yg ramah berjalan sambil
membawa kering kayu atau hasil panen di kepala dan bahu mereka.
Selain melakukan soft trekking di sekitar bukit, Anda juga dapat mengunjungi beberapa bangunan bersejarah di tempat ini.Secara historis, Karang Bayan
merupakan salah satu daerah yang dijajah oleh Karang Asem Raya. Hal ini
juga dikenal sebagai salah satu daerah percaya Islam Waktu Telu. Menurut
sesepuh di desa ini, mereka percaya bahwa nenek moyang mereka berasal
dari Bayan, salah satu kecamatan di bagian utara Lombok yang merupakan
pusat kepercayaan Islam Waktu Telu. Asumsi ini diperkuat dengan dialek
Sasak yang sama digunakan dalam Karang Bayan dan Bayan, dengan kemiripan
nama desa ini dan kemiripan bentuk bangunan bersejarah yang masih
berdiri di tengah-tengah desa.
Ada 4 bangunan tradisional tetap yaitu
Bale Adat, Sekenem, Bangaran dan Masjid. Di masa lampau, Bale Adat
digunakan sebagai tempat berkumpul di mana penduduk desa diskusi
kegiatan sosial mereka. Sekarang tempat ini dihuni oleh generasi ke-5
dari kepala desa. Bale Adat hanya terdiri dari satu ruangan dan teras.
Di depan rumah ini, ada Sekenem. Sekenem adalah ruang tamu. Dalam
sekenem, ada berugaq mana tamu bisa beristirahat.
Di balik Bale Adat berdiri Bangaran.
Bangaran adalah monumen yang melambangkan batu pertama diletakkan ketika
pertama kali nenek moyang Karang Bayan dibangun desa ini. Bangaran
berasal dari kata “Bangar”. Ini berarti untuk melakukan deforestasi.
Hanya beberapa langkah ke selatan dari Bale Adat, masjid sepi masih
berdiri dan dilingkari oleh pagar bambu tersebut. Arsitektur ini paling
mirip dengan Masjid Beleq di Bayan, Lombok Utara. Di depan masjid, ada
sisa bangunan. Itu adalah dapur yang digunakan sebagai tempat persiapan
sebelum memasuki masjid.
Islam Waktu Telu sangat dipengaruhi
oleh budaya Bali. Hal ini secara eksplisit digambarkan dalam beberapa
tradisi yang dilakukan oleh orang-orang di Karang Bayan yaitu Kikiran.
Kikiran adalah metatah di Bali-tradisi yang bertujuan untuk tubuh
manusia murni dengan flatting gigi mereka. Selain itu, hubungan harmonis
antara Bali dan Sasak Islam Waktu Telu dapat dilihat dalam tradisi yang
disebut Pijian. Pijian adalah tanda terima kasih yang diberikan kepada
Hindust dari Sasak Karang Bayan untuk menghadiri acara tertentu. Pijian
terdiri dari sawah, bumbu dan kelapa. Umumnya, itu diberikan ketika
Sasak Karang Bayan mengirim undangan mereka.
Karang bayan merupakan desa yang
dimana merupakan salah satu desa yang memiliki akulturasi budaya hindu
yang masih kuat di Lombok, karena pada jaman dulu raja Karang Asem bali
pernah menguasai desa tersebut, dimana masyarakatnya merupakan menganut
agama islam dan beberapa dari mereka masih menganut watu telu . Karang
bayan sendiri merupakan desa yang kepercayaannya merupakan ajaran dari
tokoh agama islam yang ada di Bayan, KLU.
Tak ayal dari segi bahasa dan
arsitektur masjid kuno peninggalannya, hampir memiliki persamaan dengan
Masjid Kuno Bayan di KLU. Terlepas dari itu,desa Karang Bayan sendiri
memiliki adat yang tak terlepas dari budaya hindu pada umumnya. Diantara
adat hindu tersebut adalah Pijian dan Kikiran.
1. Pijian
Pijian merupakan adat dari masyarakat
di desa Karang Bayan memberikan hadiah dari keluarga (muslim)kepada
keluarga (hindu) di Karang Bayan, ini merupakan salah satu cara untuk
mengundang keluarga (hindu) untuk datang ke acara yang salah satu
keluarga (muslim) akan adakan di desa tersebut. Biasanya Pijian ini di
antar pada saat 2 hari sebelum acara tersebut dimulai. Acara seperti
nyongkolan (prosesi pernikahan) merupakan moment yang dimana pijian ini
di persembahkan. Sedangkan pijian ini sendiri berisi 2 buah kelapa, 2
buah telur, minyak dan rempah-rempah.
2. Kikiran
Kikiran merupakan salah satu prosesi
adat meratakan gigi dengan mengunakan alat tertentu. Biasanya prosesi
adat ini disebut ngosokan dalam adat karang bayan. Ngosokan ini sendiri
biasanya merupakan acara yang di rangkai pada cara rowah atau gawe beleq
di desa Karang bayan tersebut.
Jadi akulturasi budaya dan adat hindu
masih sangat kental di Lombok dan ini membuktikan bahwa toleransi
beragama sangat kuat sekali. Bahkan saling memberikan apresiasi sendiri
terhadap acara adat yang di lakukan.Sumber: www.gililombok.com
0 comments:
Post a Comment