Ketika penulis ingin mengkaji beberapa tulisan yang
dihasilkan dari pikiran, saya mulai bertanya, seberapa jauh sih pentingnya dari
arti sebuah tulisan? Kemudian kenapa dan buat apa kita menulis?
Ada sedikit yang menarik menjawab pertanyaan tersebut.
Dari sebuah pengalaman beberapa mahasiswa dan dosen yang pernah kuliah di
negeri Paman Sam, di kalangan perguruan tinggi di sana ada dua pameo yang
diyakini benar, yaitu publish or perish (publikasikan atau minggirlah)
dan All scientist are the same, until one of them writes a book (semua
ilmuwan adalah sama, sampai satu di antara mereka menulis buku) (Wishnubroto
Widarso, 1997).
Maka kedua motto ini mengisyaratkan bahwa warga
perguruan tinggi semestinya akrab dengan hal-ikhwal yang berkaitan dengan
tulis-menulis, baik hendak dijadikan sebagai sumber pengetahuan ataupun sebagai
prestasi. Sejauh ini, banyak pula mahasiswa yang sangat produktif menulis dan
mempunyai kualitas tulisan yang amat bagus. Bahkan menulis dalam bentuk buku
pun sudah sering dilakukan. Dari itu, mungkin tak heran bila terkadang ada
mahasiswa di lingkungan kampus lebih dikenal masyarakat daripada mahasiswa
lainnya atau pengajar yang hanya mengandalkan ruang kelas semata.
Tetapi kadang muncul permasalahan yang kerap menjadi
batu sandungan bagi seorang penulis. Yaitu bentuk apresiasi terhadap mahasiswa
yang aktif menulis di media massa, tak ada sedikit pun penghargaan dari kampus,
bahkan kampus sifatnya lebih acuh. Kurangnya penghargaan terhadap penulis
mungkin sudah menjadi hal biasa dalam masyarakat kita.
Tidak hanya di lingkungan kampus, tetapi dalam skala
luas, negara, juga kurang memperhatikan para penulis yang ada di bumi pertiwi
ini. Penulis besar sekelas Pramodya Ananta Toer, lebih banyak mendapat
sanjungan dan penghargaan dari luar negeri daripada di negerinya sendiri. Perlu
ditekankan, yakni bagi seorang penulis, penghargaan dalam bentuk apapun memang
bukanlah hal yang paling utama. Mungkin kita perlu belajar dari sikap Jean Paul
Sartre. Pasalnya, tokoh filsuf eksistensialis ini menolak segala penghargaan
yang bakal diberikan pada dirinya meski ia telah melahirkan banyak karya yang
mengagumkan.
Bagi yang mempunyai keinginan seorang penulis atau
yang sering menulis tetapi belum pernah dimuat di media massa. Kini saatnya,
bergegaslah untuk menulis terus-menerus dan tak ada lampu merah yang
memberhentikan untuk menghasilkan tulisan. Tuangkan segala yang ada dalam benak
dan kepala dalam tulisan. Tak perlu berdalih “aku tidak bisa”. Semuanya pasti
bisa, jika ada kemauan dan keberanian untuk mencoba. Bukankah kegagalan dalam
bereksperimentasi hal yang baik tidak berdosa?
Memang, begitu banyak orang mengatakan ingin menulis.
Begitu banyak pula alasan yang mereka berikan untuk menjawab mengapa belum juga
menulis. “Saya mesti menunggu mood kalau mau menulis” (ini dalih paling
populer). “Saya terlalu sibuk, tidak punya waktu” (ini dalih khas dunia
modern). “Saya tidak punya komputer/laptop. Masa sih saya harus mengetik di
rental yang panas?” Sebetulnya, Tak ada alasan untuk tidak menulis.
Lakukan langkah seperti Pater Bolsius, SJ yang
mengatakan, “if you don’t read, you don’t write” (kalau engkau tidak punya
kebiasan membaca, engkau tidak bisa menulis). Seperti juga yang diungkapkan Robert
Pinckret, dalam bukunya The Truth About English, “writing is thinking. If
you can’t think you can’t write. Learning to think” (menulis adalah berpikir.
Kalau Anda tak bisa berpikir, Anda tak bisa menulis. Belajar menulis berarti
belajar berpikir).
Menulis adalah suatu kegiatan yang amat mulia. Dengan
menulis, mungkin dapat dibaca oleh anak cucu kita bila kita meninggal kelak.
Tetapi apa yang kita ucapkan dengan lisan, mungkin akan sirna dan lekang
seiring dengan perkembangan zaman. Benar nasehat Pramoedya, dan bila umurmu tak
sepanjang umur dunia, maka sambunglah dengan tulisan. Dengan begitu, menulis
dapat memberikan kehidupan abadi. Dan tak kalah pentingnya, bahwa menulis dapat
menampakkan diri kita, bahwa kita benar-benar ada, benar-benar hidup. “Aku
menulis, maka aku ada”.
0 comments:
Post a Comment