Friday, 30 September 2016

Published 08:31 by with 0 comment

Haruskah Aku Membenci IBU

Aku harus mau nulis apa tentang sebuah kisah yang dialami salah seorang yang aku kenal. 

Sebelum memulai senam jari ini aku mau sedikit kasih tau siapa sebenarnya orang yang aku mau ceritakan. 

Lahir dari sebuah keluarga sederhana dari pasangan suami istri yang tidak pernah mengeluh akan keadaan. Kehidupan yang begitu suram ia hadapi. Mulai dari numpang sana sini untuk tinggal bersama anaknya. 

Di zaman rezim soeharto tepatnya tahun 1992. Seorang yang aku kenal ini memiliki adik yang terlahir dengan membawa keberkahan. Sang ayah diterima menjadi PNS disalah satu kementerian. 

Oke jika menceritakan kisahnya mungkin tidak ada henti-hentinya, salah seorang yang aku kenal ini memiliki 4 adik perempuan yang sangat cantik. Dia menjadi satu-satunya cowok ganteng di keluarga kecilnya. Oh ya lupa bukan di saja yang ganteng tapi ayahnya.

Salah seorang temen ini mulai beranjak remaja hingga dewasa. semua keadaan iya lalui. Sekarang dia menjadi sarjana disalahsatu universitas ternama di daerahnya. 

Menjadi anak cowok satu satunya tidak membuat dirinya menjadi bermanja-manja. Sering iya menentang orang tuanya jika dia dibedakan dengan adik-adiknya. Karena iya merasa memiliki hak yang sama.

Sudah hampir 4 tahun lamanya iya meninggalkan bangku kuliah. Berbagai daerah iaya kunjungi guna mencari sesuap nasi. Mulai dari Kalimantan. Bermodalkan motor butut yang iaya miliki di jual guna mencari sebuah pengalaman baru. 

Tak terasa di usianya yang kebanyakan orang menyebutnya matang buat membina sebuah keluarga kecil.  Oh iya, teman ku ini memiliki pacara dan hampir genap 8 tahun iya pacaran.

Dari sinilah bermula sebuah cerita.

Sebelumnya aku mau membahas mengenai IBU karena satu kata ini awal dari semuanya. Ibu merupakan sosok yang luar biasa. Tidak tanggung-tanggung agama mengatakan bahwa surga itu di bawah telapak kaki ibu. Bukan lantas kita harus membersihkan kakinya atau mencium kakinya. Ini merupakan sebuah kiasan.

Di tengah perjalanan tahun 2016, pemuda dari kampung ini mempunyai harapan untuk meminang sang kekasih yang iya tidak tangung-tanggung berhubungan sangat lama. Ya... kalau di ibaratkan kredit mobil kemungkinan sudah lunas.

Sang pemuda ini dengan penuh percaya diri memberanikan dirinya untuk datang ke rumah sang kekasih untuk merajut komitmen nya. Menceritakan apa harapannya kedepan bersama sang kekasih. Dia pun mengutarakan janjinya untuk meminang kekasihnya di hadapan kedua orang tua si gadis itu. 

Hari pun terus berjalan bagaikan perputaran roda motor di jalan lurus yang sepi. Dan hingga hapir tiba waktunya. Entah ini nasib sial ataukah ini sebuah ujian. Ketika sang kekasih menanyakan kejelasan janjinya iya mulai bertanya ke orang tuannya sendiri. Mulai dari uang yang di kumpulkan bersama sang ayah. Tapi tuhan berkata lain.
Memang benar segala payang kita rencanakan walaupun matang menurut kita tapi tuhan lah segala pemberi kepastian. Seluruh isi tabungan yang puluhan juta hampir ratusan itu sunyi tanpa ada kabar. Entah ini durhaka atau apa namnya. 

Pemuda itu mulai mempertanyakan nasib uang yang iya kumpulkan bersama ayahnya. Ternyata uang itu tidak ada lagi tersisa serupiah pun. Aku ng mau menceritakan secara detailnya mengenai uang itu. Yang jelas sang pemuda ini mulai lesu, mulai merasakan prustasi.

Dia merasa bersalah sudah terlanjur berjanji. Hingga semua alasan iya lakukan agar hubungannya dengan sang kekasih berakhir. Mulai dari sengaja menguplod photo cewek di branda sosmednya hingga tidak tangung-tangung iya meminta sang kekasih mencari penggantinya. Sang kekasih mulai marah. Kenapa iya lakukan semua ini. Disisi lain iya tidak mau menceritakan aib keluarganya dan disisi lain prasaan mulai bersalah hingga malu menghiasi hari-harinya.
Suatu hari tanpa disadara keluarga sang gadis ini menelpon si pemuda. Biasa dia hanya menayakan kabar dan kondisi atau kabar hubungannya dengan si gadis. Dan curahan hatipun tidak terbendung. Terceritakan lah apa yang menimpanya. 

Dan si pemuda ini mulai jujur ke sang kekasih. Lewat telpon dia mulai menceritakan yang sebenarnya  

“ aku (si pemuda) minta maaf sebelumnya, aku sengaja melakukan hal-hal konyol agar kamu marah dan mulai membenciku hingga kamu memutuskan hub denganku. Aku sengaja melakukan itu agar kamu mendapatkan orang yang terbaik. Sekarang semua harapan ku semua janjiku untuk bersamamu telah sirna. Haruskah aku menyalahi ibu ku bahkan haruskah aku membenci nya. 


Aku tidak bisa lagi mengutarakan janji karena aku paham akan kondisiku, beban semakin bertambah karena pristiwa yang melanda dikeluargaku. Aku memang ng pantas buat kamu. Semoga kamu menemukan orang yang tepat untuk mendampingi mu”

Clotehan sang pemuda ini semakin menjadi-jadi terlihat darinya kucuran airmata mulai membasahi pipinya.

Dan akhir cerita sang pemuda itu kini tidak lagi bersama si gadis. Entah iya merasa tidak percaya lagi atau entah iya merasa si pemuda itu tidak menjanjikan buat di ajak mengarungi bahtera samudra kehidupan rumah tangga.

Cerita ini hanya sebagian yang aku tau. Aku tidak begitu mendalami yang aku tau ada sebuah ruang permasalahan dalam diri si pemuda yang begitu kompleks. Disisi lain dia harus menanggung beban keluarga. Disisi lain dia menanggung malu dan rasa kecewa.
Semoga apa yang kita harapkan dan apa yang kita rencanakan tercapai. Hanya saja dari kisah ini menuntut kita untuk bagaimana bersikap dewasa.

      edit

0 comments:

Post a Comment