Thursday, 7 July 2016

Published 08:14 by with 0 comment

Ikan Bakar Tanpa Rencana Di Pulau Lampu

Tepat pukul 12.45 Wita pasukan anti huru hara alias teman teman pecinta jalan-jalan tanpa rencana mulai berdatangan. Dan betul memang tidak sekali ini sebuah perjalanan yang mengasikan di hasilkan dari sebuah aksi tanpa rencana. 

Di persimpangan jalan sebuah rencana tercetus dari seorang teman. Ide cari ikan segar untuk di bakar di pinggir pantai kayak nya sebuah ide yang mengasikan, terlebih dari tadi pagi belum merasakan enaknya nasi. Maklum kerasa masih puasa saja. 

Untuk memenuhi ide dari tersebut, mulailah bergegas menuju salah satu Tempat Pelelangan Ikan (TPI). TPI ini berada di desa Mumbul Sari kecamatan Pringgabaya atau tepatnya biasa di kenal dengan wilayah Labuan Lombok. Di tempat ini segala jenis ikan hasil tangkapan nelayan dikumpulkan dan kemudian di jual untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di sekitaran bahkan menurut nelayan, ikan yang ditangkap juga di jual hingga ke ibu Kota (Mataram).

Kembali ke jalan cerita dari awal. Setelah sampai di TPI, pemandangan unik terlihat. Semua pintu gudang tempat penimbunan ikan tertutup rapat. Perahu nelayan berbaris rapi bagaikan mau pawai. Nelayan sibuk merangkai kata tulisan yang ada di perahunya, hingga pergantian warna demi warna menghiasi perahunya. Ternyata nelayan tidak melaut hari kemarin dan sekarang. Suasana Idul Fitri masih mengema. Nuansa Silaturahmi masih terlihat ramai untuk melepaskan kebencian demi menuju fitrah. Berarti hari ini kita gagal total mendapatkan ikan.
 
Kondisi Di dermaga Tempat pelelangan Ikan (TPI) terlihat perahu berjejer rapi.

Berbagai pendapat mulai bermunculan, ada yang menyarankan ke pasar.  Di pasarpun sepi penjual hanya satu orang yang berjualan itupun ikan hasil tangkapan hari sebelum lebaran. Ikan yang dijual tidak memenuhi kriteria yang diinginkan teman-teman. Lanjut ke pencarian berikutnya.
Pasar Labuan Lombok Terlihat Sepi


Kami pun mulai kebingungan jagan sampai keinginan makan ikan bakar tertunda gara-gara tidak ada yang jualan. Semua mulai bingung sambil duduk manis di perataran parkiran pasar Labuan Lombok. Tanpa di duga-duga salah seorang teman SMP muncul di hadapan kita. Pertanyaan demi pertanyaan muncul dari teman-teman. Menanyakan tempat penjualan ikan. Memang kalau sudah kepingin itu ng boleh di tunda. Ide mantap dari teman SMP tersebut tidak mengecewakan agenda tanpa rencana ini. 
Mencari Ide keman lagi harus mencari ikan


Tidak ada ikan ayam pun jadi. Segera setelah berdiskusi panjang teman tersebut menawakan diri untuk membawa ayam. Maksudnya untuk di bakar menggantikan ikan yang kita cari. Tapi dengan sau syarat harus lokasinya yang jauh seklian berwisata. 

Setelah semua beres mulai dari membersihkan ayam hingga bumbu sudah siap tersedia tiba tiba tercetus ide untuk mencari kan laut sekali lagi. Al hasil ikan pun kami dapatkan.

Pulau lampu salah satu destinasi wisata dengan paasir putih yang cantik menjadi lokasi tempat bakar ikan dan ayam hari ini. Sebelum lari ke ayam dan ikan bakar saya mau memperkenalkan Pulau Lampu. Tapi mengenai sejarahnya akan saya bahas pad tulisan yang akan datang ya. Pulau lampu terletak di Desa Padak Guar, kec. Sembelia Kabupaten Lombok Timur. Lokasi ini menjadi tempat berwisata atau lokasi Favorit wisatawan lokal baik yang berasl dari kecmatan sekitar maupun dari daerah-darerah yag ada di pulau Lombok. Selain tempat berwisata lokasi ini menjadi pelabuahan penyeberangan menuju empat gili yang ada di sana yaitu Gili Kondo, Gili Bidara, Gili Kapal dan Gili Ketagan.
Bakar-membakar di pulau Lampu


Lanjut kemasalah bakar-membakar. Sesampai di lokasi segera kita mengumpulkan kayu bakar. Tidak sulit untuk mendapatkan yang kita cari. Tempat ini bersih hanya saja ada sampah-sampah organik yang terbawa dari lautan seperti potongan potongan kayu. Potongan kayu ini yang kita mamfaatkan untuk di jadikan bara buat bakar ikan dan ayam. Dan akhirnya apa yang kita inginkan tersaji dengan maknyosssss.

Sebenarnya mencari kesenangan itu bersama teman-teman itu ng harus mahal, ngak harus di kafe di mall dan lain sebagainya. Cukup dengan ini saja guratan senyuman di pipi menghiasi saat menikmati makan di pinggir pantai. Inilah kebersamaan yang selalu kita rindukan. Maklumlah untuk mencari jadwal ngumpul itu angat sulit kayak mencari emas di kedalaman 120 meter di bawah tanah. Aduh lebay banget sih.  Aksi tanpa rencana ini memang luar bisa. Terkadang kita merencanakan dari jauh-jauh hari, pas di hari acara malah kesibukan mulai menghantui. 

Semoga kebersamaan seperti ini selalu terjadi hingga tidak bisa di tentukan. Dan akhir dari cerita ikan dan ayam habis tanpa sisa. Maknyossss.
      edit

0 comments:

Post a Comment