Wednesday, 18 May 2016

Published 18:34 by with 0 comment

Film Warcraft

Sumber Google
Apakah Warcraft: The Beginning menjadi film based on game yang lepas dari kutukan? Sejak dahulu jika ada film yang based on video game, pertanyaan inilah yang selalu terngiang di benak fans game-nya. Apalagi tahun ini jumlah film adaptasi dari game yang tayang tergolong banyak. Kita sudah bisa menyaksikan Ratchet and Clank, The Angry Birds dan yang terbaru adalah Warcraft: The Beginning. Lalu masih ada Asssassin’s Creed yang baru akan tayang di Desember 2016.

Jadi bagaimana dengan film arahan Duncan Jones ini yang diadaptasi dari game MMORPG (Massively Multiplayer Online Role Playing Game) yang sangat populer, Warcraft? Bagi yang menyaksikannya, maka film pertama yang digadang akan menjadi sebuah trilogy ini tak terlalu jauh berbeda dengan franchise Lords of the Rings. Bukan dari segi ceritanya, namun nuansa abad pertengahannya. Di mana terdapat sebuah dunia yang dihuni oleh berbagai macam ras seperti manusia, Elf, Dwarf, Orc dan yang lain nya.

Kisahnya sederhana, yaitu mengenai bangsa Orc yang dunianya diambang kehancuran kemudian menggunakan sebuah portal sihir untuk masuk ke sebuah negeri bernama Azeroth, sebuah negeri yang wilayahnya damai dan makmur. Untuk mempertahankan wilayah mereka, kaum manusia yang dipimpin oleh Anduin Lothar (Travis Fimmel) bersama penyihir muda Khadgar (Ben Schnetzer) harus mempertahankan dengan segala daya upaya, agar kerajaan Stormwind dapat bertahan dari serbuan para Orc yang pimpinan Gul’Dan (Daniel Wu).

Ya, ceritanya hanya itu saja, sederhana dan tidak terlalu jauh dengan film-film bertemakan medieval fantasy yang pernah ada sebelumnya. Secara visual effect, Efek khusus di Warcraft cukup memuaskan. Gak kalah dengan film-film seperti The Hobbit trilogy, LOTR. Apalagi karena memang di visual effects diproduksi dan dikerjakan oleh WETA Digital yang menjadi jaminan kualitasnya.

Apakah ini adalah sebuah adaptasi yang tepat? Masih banyak kekurangan disana-sini memang, Terutama elemen fun yang ada di dalam gamenya jadi hilang. Di versi layar lebar, ceritanya jadi serius, sementara di gamenya walau memang ada keseriusan tapi tetap terasa unsur humor yang membuat Game nya menjadi menyenangkan.

Secara keseluruhan, Warcraft: The Beginning menyajikan sebuah kisah fantasy yang apik dan lumayan menghibur. Walaupun bukan adaptasi yang para gamer harapkan, tapi masih sedikit menghibur dari sudut pandang masyarakat awam. Tapi dari sudut pandang gamer yang telah bertahun-tahun atau bahkan masih memainkan gamenya hingga saat ini, sepertinya akan terbelah dua menjadi dua kelompok.

Bisa jadi ada golongan yang sangat kecewa sementara golongan yang masih bisa menikmati Warcraft: The Beginning dengan segala kekurangannya. Kurang lebih seperti film Batman vs Superman: Dawn of Justice. Ada yang tidak menyukai karena terlalu “dark” dan sama sekali tanpa keceriaan. Tapi ada juga yang menyukainya karena memang sesuai dengan alur cerita yang disajikan.

Jika kamu pencinta film-film petualangan yang seru, entah kamu pencinta game Warcraft atau bukan, tidak ada salahnya untuk menyaksikan film Warcraft: The Beginning. Setidaknya tonton saja dulu tanpa prasangka. Siapa tau setelah menontonnya, kamu malah menyukainya.



Read More
      edit

Sunday, 15 May 2016

Published 09:49 by with 0 comment

Menulis? Kenapa Harus

Ketika penulis ingin mengkaji beberapa tulisan yang dihasilkan dari pikiran, saya mulai bertanya, seberapa jauh sih pentingnya dari arti sebuah tulisan? Kemudian kenapa dan buat apa kita menulis?

Ada sedikit yang menarik menjawab pertanyaan tersebut. Dari sebuah pengalaman beberapa mahasiswa dan dosen yang pernah kuliah di negeri Paman Sam, di kalangan perguruan tinggi di sana ada dua pameo yang diyakini benar, yaitu publish or perish (publikasikan atau minggirlah) dan All scientist are the same, until one of them writes a book (semua ilmuwan adalah sama, sampai satu di antara mereka menulis buku) (Wishnubroto Widarso, 1997).

Maka kedua motto ini mengisyaratkan bahwa warga perguruan tinggi semestinya akrab dengan hal-ikhwal yang berkaitan dengan tulis-menulis, baik hendak dijadikan sebagai sumber pengetahuan ataupun sebagai prestasi. Sejauh ini, banyak pula mahasiswa yang sangat produktif menulis dan mempunyai kualitas tulisan yang amat bagus. Bahkan menulis dalam bentuk buku pun sudah sering dilakukan. Dari itu, mungkin tak heran bila terkadang ada mahasiswa di lingkungan kampus lebih dikenal masyarakat daripada mahasiswa lainnya atau pengajar yang hanya mengandalkan ruang kelas semata.

Tetapi kadang muncul permasalahan yang kerap menjadi batu sandungan bagi seorang penulis. Yaitu bentuk apresiasi terhadap mahasiswa yang aktif menulis di media massa, tak ada sedikit pun penghargaan dari kampus, bahkan kampus sifatnya lebih acuh. Kurangnya penghargaan terhadap penulis mungkin sudah menjadi hal biasa dalam masyarakat kita.

Tidak hanya di lingkungan kampus, tetapi dalam skala luas, negara, juga kurang memperhatikan para penulis yang ada di bumi pertiwi ini. Penulis besar sekelas Pramodya Ananta Toer, lebih banyak mendapat sanjungan dan penghargaan dari luar negeri daripada di negerinya sendiri. Perlu ditekankan, yakni bagi seorang penulis, penghargaan dalam bentuk apapun memang bukanlah hal yang paling utama. Mungkin kita perlu belajar dari sikap Jean Paul Sartre. Pasalnya, tokoh filsuf eksistensialis ini menolak segala penghargaan yang bakal diberikan pada dirinya meski ia telah melahirkan banyak karya yang mengagumkan.

Bagi yang mempunyai keinginan seorang penulis atau yang sering menulis tetapi belum pernah dimuat di media massa. Kini saatnya, bergegaslah untuk menulis terus-menerus dan tak ada lampu merah yang memberhentikan untuk menghasilkan tulisan. Tuangkan segala yang ada dalam benak dan kepala dalam tulisan. Tak perlu berdalih “aku tidak bisa”. Semuanya pasti bisa, jika ada kemauan dan keberanian untuk mencoba. Bukankah kegagalan dalam bereksperimentasi hal yang baik tidak berdosa?

Memang, begitu banyak orang mengatakan ingin menulis. Begitu banyak pula alasan yang mereka berikan untuk menjawab mengapa belum juga menulis. “Saya mesti menunggu mood kalau mau menulis” (ini dalih paling populer). “Saya terlalu sibuk, tidak punya waktu” (ini dalih khas dunia modern). “Saya tidak punya komputer/laptop. Masa sih saya harus mengetik di rental yang panas?” Sebetulnya, Tak ada alasan untuk tidak menulis.

Lakukan langkah seperti Pater Bolsius, SJ yang mengatakan, “if you don’t read, you don’t write” (kalau engkau tidak punya kebiasan membaca, engkau tidak bisa menulis). Seperti juga yang diungkapkan Robert Pinckret,  dalam bukunya The Truth About English, “writing is thinking. If you can’t think you can’t write. Learning to think” (menulis adalah berpikir. Kalau Anda tak bisa berpikir, Anda tak bisa menulis. Belajar menulis berarti belajar berpikir).

           Menulis adalah suatu kegiatan yang amat mulia. Dengan menulis, mungkin dapat dibaca oleh anak cucu kita bila kita meninggal kelak. Tetapi apa yang kita ucapkan dengan lisan, mungkin akan sirna dan lekang seiring dengan perkembangan zaman. Benar nasehat Pramoedya, dan bila umurmu tak sepanjang umur dunia, maka sambunglah dengan tulisan. Dengan begitu, menulis dapat memberikan kehidupan abadi. Dan tak kalah pentingnya, bahwa menulis dapat menampakkan diri kita, bahwa kita benar-benar ada, benar-benar hidup. “Aku menulis, maka aku ada”.

Read More
      edit

Monday, 2 May 2016

Published 04:57 by with 0 comment

Dari Mereka Untuk Lingkungan

Jpeg
Gadis Pemulung
Wajah kusam, agak hitam, rambut tidak teratur dan berwarna pirang dengan keringat menghiasinya. Mereka berjalan diantara panasnya terik mataharii di tambah pantulan pasir putih yang begitu indah menemani langkah pemulung kecil. Dengan karung digelantungkan di belakang pundaknya sambil menuduk titik demi titik untuk menggapai sampah pelastik yang mencemari keindahan dipantai Gili Genting Sekotong Barat.
Tubuh munggil gadis pemulung ini tidak diragukan lagi kekuataanya. Sepulang sekolah mereka tidak lantas istirahat namun langsung mengambil karung ajaib. Melangkah menyelulusuri jalanan demi mengais rizki yang mungkin menurut orang tidak ternilai tapi menurut dirinya sangat mahal nilainya. Uang yang didapatkan di kumpulkan dalam celengan.
Suatu hari saya ketika saya mengunjungi desa tersebut sya bertemu dengan dua gadis cilik. Mereka dengan senyum manis menampar kesibukan saya. Kegigihan mereka yang begitu tinggi membuat saya melangkah mengampiri nya.
Disisilain tampa kita sadari peran mereka sangat menentukan pola dari perubahan iklim akibat pencemaran yang dilakukan oleh manusia terutama sampah plastik. Sampah plastik menjadi masalah lingkup dunia karena semakin berkembangnya kehidupan di bumi ini di ikuti semakin tingginya penggunaan plastik. Dan perlu kita ketahui sampah plastik sangat sulit hancur dan membutuhkan waktu yang begitu lama. Apalagi jika sampah plastik ini bermuara dilaut akan menambah lama waktu untuk hancur.
Gadis cilik ini membantu mengurangi dampak pencemaran yang diakibatkan oleh kurang sadarnya kita dalam menjaga lingkungan. Kita selalu menikmati indahnya alam tapi kurang cinta dengan alam yang kita nikmati. Buktinya yaitu sampah yang kita buang sembarangan. Sampah yang kita anggap sepel jika terus menerus akan menjadi gunung raksasa yang mengancam kehidupan dibumi.
Mereka yang kecil saja sadar dan mengerti terus bagaimana dengan kita.???
Read More
      edit