Monday, 6 April 2015

Published 04:54 by with 0 comment

Pemuda Dan Masa Depan Pertanian

Bersama Wanita Tani Desa Buwun Mas Sekotong
” PERTANIAN IDENTIK DENGAN PEKERJAAN ORANG ORANG TUA, YANG RENTA DAN TAK MEMILIKI PILIHAN PEKERJAAN YANG LAIN, SEMENTARA PARA PEMUDA LEBIH MEMILIH PEKERJAAN YANG LAIN YANG MENURUT MEREKA LEBIH MENJANJIKAN DAN BERGENSI.”

Dari cerita kebanyakan tentang profil petani yang ada di Indoneisa adaalah petani yang tak berdaya dan sering di berdayakan melalui beberapa program baik oleh pemerintah maupun pihak swasta. Namun dalam kenyataanya masih banyak petani yang hidup dibawah garis kemiskinan. Belum lagi permasalah dengan kekeringan, hujan yang berlebih, cuaca yang tidak menentu dan berbagai serangan hama penyakit.
Dengan pemilikan lahan rata-rata kurang dari 0,5 hektar, infrastruktur pertanian yang kurang memadai, organisasi petani dan kualitas sumberdaya manusia yang lemah, masih rendahnya dukungan kelembagaan dan manajemen pengelolaan pertanian yang belum mengarah ke kaidah bisnis, telah mengakibatkan usahatani menjadi kurang menarik secara ekonomis, karena belum mampu memberikan jaminan sebagai sumber pendapatan untuk hidup secara layak.
Pemuda pada dasarnya adalah bagian dari masyarakat. Mereka adalah bagian dari masyarakat yang sebagian besar hidup dari sektor pertanian. Keberadaan pemuda di tengah masyarakat setidaknya dapat memberikan peluang pemberdayaan bagi masyarakat yang rata-rata berpendidikan rendah.
Salah satu hal yang dapat diberikan dalam konteks pencerdasan, pendampingan, dan pemberdayaan petani adalah dengan turut serta membangun kelembagaan petani. Berdasarkan pengalaman masa lalu, pengembangan kelembagaan petani cenderung tidak berlangsung lestari karena pengembangan kelembagaan tersebut tidak secara konsisten disertai dengan pemberdayaan petani. Pemberdayaan petani merupakan upaya-upaya yang dilakukan dalam rangka meningkatkan kemampuan petani sehingga secara mandiri mampu mengembangkan diri dan usahanya secara berkelanjutan.
Pemberdayaan petani perlu dilakukan melalui penciptaan iklim kondusif yang memungkinkan petani berkembang, memperkuat potensi dan daya saing yang dimiliki petani, dan memberikan perlindungan yang secukupnya. Untuk itu, pemberdayaan petani merupakan proses pembelajaran yang harus dilaksanakan secara terus-menerus guna meningkatkan partisipasi dan kemampuan petani (pelaku usaha pertanian). Sasaran pemberdayaan adalah meningkatnya kemampuan petani (pelaku usaha pertanian) untuk mengelola usaha dan memanfaatkan akses terhadap sumberdaya lahan, air, alat dan mesin pertanian, permodalan, teknologi dan informasi usaha/pasar.
Read More
      edit

Tuesday, 14 October 2014

Published 04:55 by with 0 comment

Laut Bukan Penampung Akhir Sampah


Sampah di Lautan

Yang menjadi permasalahan di dunia ini terlebih di Indonesia adalah permasalahan sampah.  Tanpa kita sadari akbat kurang sadar dan perubahan perilaku dari masyarakat yang tidak mengerti arti lingkungan yang bersih, mengakibatkan terbentuknya keranjang sampah raksasa. Tidak tangung tanggung yang menjadi keranjang sampah adalah LAUT.
Sampai kapan kita jadikan laut kita menjadi tempat penampungan sampah. Kita tidak menyadari sampah yang kita buang sangat membahayakan bagi ekosistem yang ada di lautan. Laut yang tercemar akan mengakibatkan ikan yang kita konsumsi tidak sehat.
Selain itu yang menjadi perhatian dari sampah yang ada di lautan adalah sampah PLASTIK. Sampah plastik dapat. plastik itu butuh waktu sangat lama untuk terurai. Selain itu muncul lagi masalah baru yaitu kandungan bijih plastik sangat sulit untuk terurai. Menurut para ilmuan bahwa 99 persen plastik mikroskopik di lautan hilang, kemungkinan dimakan hewan. Sampah plastik yang sudah terlanjur berada dilaut akan mengendap untuk waktu yang sangat lama.Yang menjadi perhatian kita saat ini adalah munculnya PLASTIK ramah lingkungan dan dapat terurai hanya beberapa tahun. syarat terurai plastik ini adalah Suhu tinggi atau lebih dari 50 derajat celsius, radiasi ultraviolet sinar matahari, hingga paparan udara jadi syarat agar plastik itu bisa terurai seperti yang diklaim produsennya.

Yang menjadi catatan kita adalah bahwa plastik yang di tampung di laut akibat ulah tangan manusia yang kurang menyadari dampak buruk dari sampah dan pencemarannya ternyata tidak bisa terurai begitu saja walaupun itu sampah yang diklaim bisa terurai hanya beberapa tahun.
Di dalam laut, sinar matahari amat sangat minim, bahkan nol, saat plastik terendap di kedalaman ratusan meter. Kondisi laut pun seperti kita ketahui dingin hingga sangat dingin sehingga tak memenuhi syarat lingkungan bagi plastik untuk terdegradasi.
Dari hasil studi yang dilakukan oleh UNEP memperkirakan produksi palastik 280 juta ton yang diproduksi secara global dalam kurun pertahun. Dan yang menjadi pokok perhatian kita adalah hanya sebagian kecil yang di daur ulang. Sisanya mengendap di lautan.
Masihkah kita merelakan lautan yang menjadi sumberkehidupan kita rusak diakibatkan oleh diri kita sendiri. Masihkah kita rela keindahan pulau, keindahan alam, keindahan bawah laut yang kita banggakan rusak akibat sampah yang kita buang. Pertanyaan ini tidak perlu di jawab akan tetapi menjadi pemicu untuk merubah sifat dan tingkah laku kita. Sampai kapan kita jadikan lautan kita menjadi bak sampah.
Read More
      edit